jump to navigation

Desember 2, 2007

Posted by edwardsahalatua in In-Trude.
trackback

as.jpgStart writing : 30 April 2007  Genres : Fantasy, Kids/Family, Science Fiction Target Readers : All Ages Author : Birgita Asdewi Publisher : b-A corporation Release Date  : June 10, 2007 

Mosa dan Cairan Kristal Ajaib  [jilid satu]

 “ Aaahhh…toloong…tooloong…” teriak Mosa sambil bergoncang-goncang.Kaki –kaki  mungilnya hampir tidak kuat lagi menopang tubuhnya. Dia berayun-ayun , sebentar ke kiri – sebentar ke kanan. Mosa melayang-layang seolah-olah bola yang siap untuk dipantulkan.“ Toloong ..aku sudah tidak kuat lagi..” jerit Mosa putus asa.Ketika ia merasa pegangannya sudah hampir terlepas dan terjatuh, ia hanya pasrah.

Tapi ditengah keputusasaanya , sesaat sebelum genggamannya terlepas , sebuah kaki yang kokoh menyambutnya.Sesaat lamanya Mosa tidak menyadari apa yang terjadi, dia memejamkan mata. Tapi dia merasakan ada kehangatan yang menjalar ke kakinya yang mungil.Ketika dia mendongak . sepasang mata yang tegas namun hangat menatapnya.“ Jangan takut anakku . Ayah akan selalu melindungimu” demikian kata Peto, lembut.

Mosa tersenyum lega ,“ Terimakasih ayah “.Tidak beberapa lama kemudian goncangan itu pun berhenti. Mosa merasa lega.  “ Dimana Ibu dan kakak-kakak  yang lain ?” tanya Mosa kepada ayahnya.“ Mereka ada disana, mereka tidak apa-apa” kata Peto sambil menunjukkan tempat dimana ibu dan saudara-saudaranya berada.

Sambil berpegangan erat pada ayahnya , ia berjalan perlahan menuju tempat yang ditunjuk oleh Peto tadi.“ Ibu..ibu..” teriak Mosa begitu mereka hampir tiba di tujuan.“ Anakku….” seru Duna, ibunda Mosa.Duna memeluk anaknya erat-erat “ Kau tidak apa-apa nak ?” tanya Duna. “ Tadi ibu melihat dari jauh kau hampir terjatuh, apakah kau terluka?” lanjut Duna cemas.“Aku tidak apa-apa bu, untung ayah datang menolongku disaat yang tepat” jawab Mosa tersenyum sambil melirik ayahnya.

“ Mosa…Mosa…, kau baik-baik saja?” teriak teman-temannyanya yang kebetulan sedang berada bermain ke tempat Mosa seraya menghampirinya.“Aku tidak apa-apa kok, lihat anggota tubuhku masih lengkap dan tidak ada lecet sedikit pun” kata Mosa sambil memutar-mutar layaknya peragawati.“Syukurlah” balas mereka.“ Mari kita pulang ke rumah dan istirahat, sudah seharian diluar, kalian pasti sangat lelah’ kata Peto.

Mereka semua berjalan beriringan. Peto dan Duna berada disisi paling luar, mereka mengapit Mosa dengan ketat, khawatir terjadi sesuatu kembali dengan Mosa.Sesudahnya ditujuan, Peto dan Duna meninabobokan Mosa dipangkuan. Setelah beberapa saat Mosa pun terlelap. Kedua orang tua ini pun melihat kearah buah hati mereka dengan tersenyum.“ Peto, apa sebaiknya kita mencari tempat yang lebih aman ” tanya Duna lirih karena ia tidak mau membangunkan anaknya.

“Hhhhh..” desah Peto sambil menarik nafas. ”Yaa… aku sudah lama memikirkan hal ini. Aku tahu tempat ini memang tidak aman. Sewaktu-waktu bahaya dapat muncul. Tapi aku tidak tahu kemana akan pergi”  keluh Peto.“ Aku tidak mau mengambil resiko yang lebih besar. Kita tidak tahu apakah tempat yang baru akan lebih baik, lagi pula si Mosa masih sangat rapuh dan lemah” lanjut Peto.Sambil berkata demikian, Peto memandangi anaknya yang paling kecil… sendu.

Mosa adalah seekor anak kutu betina. Dia merupakan bungsu dari 10 bersaudara. Mereka adalah jenis dari kutu caplak ( ticks ) yaitu sejenis kutu penghisap darah yang biasanya banyak ditemukan di hewan peliharaan, umumnya anjing atau kucing. Caplak tidak dapat melompat tinggi, mereka hanya dapat berjalan biasa.Jika kita melihat di tubuh hewan peliharaan ada benda bentuknya seperti kuaci tetapi agak gemuk dan berwarna coklat kehijau-hijauan, itu adalah jenis caplak dewasa.

Caplak muda cenderung berlindung dibawah induknya. Berbeda dengan caplak dewasa, caplak muda berbentuk seperti laba-laba tapi ukuran tubuhnya jauh lebih kecil. Warna tubuhnya lebih gelap kehitam-hitaman. Ukuran anak caplak berkisar 1-2 mm, sedangkan yang dewasa antara 5-7 mm.Mereka hidup dengan cara menghisap darah dari hewan yang di hinggapi. Jadi dapat dikatakan seperti benalu, menumpang hidup dari kehidupan makhluk hidup lain.

Caplak sebenarnya merupakan hewan yang tidak disukai oleh hewan lain terutama anjing atau kucing, karena dengan keberadaan kutu-kutu ini mereka akan sangat gatal.Dan apabila koloni mereka bertambah, maka semakin gatal juga tubuh si anjing atau kucing tersebut, dan semakin lama mereka juga akan semakin kurus karena darahnya akan terhisap oleh para caplak.

Apabila para hewan peliharaan ini merasa gatal, maka mereka akan menggaruk-garuk tubuhnya sedemikian rupa sampai badan bergoncang-goncang.Nah, goncangan inilah yang dirasakan oleh Mosa. Goncangan seperti gempa bumi berskala ritcher 8 itu membuat koloni caplak kocar-kacir.Untung bagi Mosa, dia tidak terkena kuku panjang nan tajam dari si empunya tubuh. Para caplak lain yang terkena garukan , pasti akan terjatuh dan terluka terinjak telapak kaki yang kotor itu.

Meskipun caplak terkenal dengan cengkramannya untuk tidak cepat terlepas dari tubuh yang digigitnya, tapi karena mereka adalah makhluk yang sangat kecil, apabila terkena garukan yang terus-menerus akan rontok juga.Karena untuk itulah Mosa dan keluarganya memilih untuk hidup di daerah punggung kearah leher  dari hewan peliharaan anjing ini. Daerah tersebut agak sulit untuk dijangkau oleh garukan dari si empunya badan. Kakak-kakak Mosa yang lainya telah menjadi korban keganasan si tapak ini .Begitu pula dengan teman-teman   dan saudara-saudara yang lain telah menjadi korban.

Mosa merupakan jenis caplak yang agak berbeda dari caplak lainnya. Bila umumnya caplak muda berwarna hitam mengkilap maka Mosa berwarna lebih terang mengarah abu-abu dan tubuhnya sedikit berbulu.Jadi sepintas Mosa mirip sekali dengan laba-laba. Ditambah lagi dengan jalannya yang sedikit timpang karena kecelakaan yang dialaminya maka Mosa sering menjadi bahan ejekan sesama caplak. Karena itulah Peto dan Duna memberikan perlindungan lebih terhadap anak bungsu mereka ini.

Tetapi meskipun memiliki fisik yang berbeda dan tidak sempurna , Mosa merupakan seekor kutu yang periang dan pemberani sehingga semua caplak suka kepadanya.“Hhhhh..apa yang bisa aku lakukan untuk membantu ayah dan ibu?” pikir Mosa. Tanpa sengaja ia mendengar percakapan kedua orangtuanya tadi. Mosa menjadi sedih , ia merasa selalu menjadi beban orang tuanya.Ia termenung , sebagai seekor kutu yang paling kecil diantara saudara-saudaranya, ia memang paling dilindungi….[bersambung]

 

Komentar»

No comments yet — be the first.