Dumm!
Sarimin Vs Arwana [baca] Goliat[h] dlm Strategi Butet Kartaredjasa [Sesi Satu...]
“Karena Benar,maka kamu salah”
Ketika hukum berpisah dengan keadilan, ketika hukum bercerai dengan kebenaran, ketika penegakan hukum menjadi cerita duka nestapa, maka yang terjadi bukan hanya sekedar derita umat manusia, akan tetapi runtuhnya peradaban sebuah bangsa (Pradjoto,SH)
Suara Empuk nan kocak terdengar di radio PAS FM, Sarimin…ahaa itu suara Butet ,’drama theaterwan’ yang saya kagumi, budayawan yang kaya dengan inspirasi lakon kehidupan. Dengan mendengar suara itu berarti juga Butet telah memproklamirkan diri bahwa dia akan beraksi dan ‘manggung’ dalam waktu dekat, bersama dengan itu terbayang aksi dan gayanya yang selalu membuat pikiran saya bergetar dan timbul inspirasi baru, hmm.. apapun kesibukan yang ada pasti saya akan datang menonton kepiawaianya, fantastik banget.
Monolog Butet Kartaredjasa dengan judul Sarimin yang dipertunjukannya di TIM (saya tonton di tgl 18/11, Minggu), tata panggungnya sangat sederhana, set-set alat musik tertata ditengah panggung dan hanya di background dengan kain putih, alat ‘pikul’ tukang monyet dan polisi dari triplek berwajah ‘arwana’ yang ditancapkan pada kotak mirip pos polisi serta didepannya terdapat mesin ketik mainan menambah aksesoris pada panggung pertunjukkan. Ehm sangat sederhana, itulah kesan awal saya saat pertama melihat panggung itu.
15 menit menunggu acara di mainkan, dumm… pikiran saya melayang-layang menebak arti semuanya, kenapa aksesoris tersebut terkesan kokoh pada tempatnya, apakah itu bukan berarti awal sampai akhir pertunjukan alat-alat tersebut tidak akan dipindah dan diganti-ganti, atau mungkin ada rencana tersendiri yang akan dipertontonkan. Belum apa-apa Butet telah mengajak saya untuk menduga dan belajar saling ‘memfitnah’ antara pikiran melawan hati saya sendiri hingga mereka saling cakar. Sungguh pertarungan batin yang hebat, ketawa saya terdengar lirih saat saya harus mengakui lagi kehebatan seorang Butet, dimana sebelum pertunjukan dimulai pikiran saya telah bekerja keras untuk memecahkan ‘misteri’ awalan ini. Apakah anda mempunyai pikiran yang sama dengan saya pada saat itu??? A t a u ….
15 menit lamanya …
Dari sekian banyak pengunjung theater Taman Ismael Marzuki yang berbondong bondong menonton Sarimin ‘si Topeng Monyet’ malam itu , pria dengan kunciran yang pertama kali menarik perhatian saya saat masuk. Tingginya kira-kira 170 cm, berat badan entahlah tapi menurut saya dia terkesan kurus dan kulitnya berwarna coklat kehitaman, yang pasti dia asli pribumi dan bukan keturunan. Dengan jins yang menurut saya lumayan ketat untuk ukuran laki-laki pada umumnya serta kaos oblong hitam yang tak terkesan mewah, dia melenggang masuk, melintas di depan saya.Saya tak mengenal namanya, mungkin dia juga bukan artis, pejabat atau pengusaha sukses yang wajahnya sering dipertontonkan lewat berbagai media. Pemuda ini duduk tepat dikursi paling depan. Posisi paling strategis menurut saya. Harga kursi tempat dia duduk pastilah sama dengan tempat saya duduk karena hanya berjarak satu baris, di depan saya. Hanya bedanya saya, agak sedikit ke pinggir dan dia tepat berada digaris tengah panggung. Saya mulai bermain-main dengan pikiran saya. Membuat tebakan-tebakan yang walaupun saya tahu takkan pernah terjawab tapi justru membuat saya makin bersemangat. Karena menurut saya disitulah letak serunya. Membuat praduga-praduga yang akhirnya bisa saya simpulkan sendiri, ah sangat menyenangkan. Benak saya mulai beraksi. Apakah mungkin dia salah satu keluarga, teman, saudara dari Butet Kartajasa cs yang hari ini bertindak sebagai tuan rumah malam ini? Atau mungkin saja dia mendapatkan tiket gratis yang saya tahu kemudian bahwa memang ada tiket yang diberikan secara cuma-cuma . Dan kemungkinan itu akan berlaku untuk orang-orang yang saya sebutkan tadi (jawaban ini bisa saya simpulkan setelah 15 menit kemudian itupun karena ‘woro-woro’ Djaduk). Menurut saya dengan penampilannya yang terkesan mahasiswa yang dekil dan ‘kagok’ dia tak cukup kuat untuk membayar biaya tiket yang lumayan mahal itu. Lalu setelah melewatkan berbagai ide yang tak bisa dipertanggung jawabkan akhirnya tercetuslah satu dugaan yang menurut saya paling masuk akal, bahwa kemungkinan pria itu adalah salah satu budayawan theater juga. Saya mencoba membenarkan sendiri tuduhan terakhir, entahlah apakah ini disebut fitnah atau bukan tetapi saya harus menyimpulkan agar permainan ini berakhir.
Atmosfir yang lain…
Kekeh saya terdengar saat terlihat…
Test n Top