jump to navigation

In-Trude!

Atmosfir disini diperuntukkan bagi siapapun yang ingin bercerita,mempublishkan tulisannya bisa beruapa cerita bersambung,singkat,puisi,artikel dan opini semuannya untuk kawan dan handai taulan…monggo!

as.jpgStart writing : 30 April 2007  Genres : Fantasy, Kids/Family, Science Fiction Target Readers : All Ages Author : Birgita Asdewi Publisher : b-A corporation Release Date  : June 10, 2007 

Mosa dan Cairan Kristal Ajaib  [jilid dua]

Pernah suatu hari tanpa sengaja, Mosa berjalan-jalan terlalu jauh dari tempat tinggal keluarganya.  Bermaksud ingin menemui teman-temannya yang berada di daerah ekor si doggy. Karena terlalu riang , ia menjadi tidak waspada akan lingkungan sekitarnya.  

Tiba-tiba ia terpeleset, karena begitu mendadak Mosa tidak sempat untuk berpegangan. Tubuh kecilnya langsung melayang jatuh. Untungnya ia tersangkut pada bulu-bulu yang kusut. Untuk sesaat Mosa seperti bermain ayunan, terombang-ambing ke depan dan kebelakang. 

Seketika ia menjerit ketakutan,” Toolooonng….Toolooong” teriaknya panik. Kaki-kaki kecilnya berusaha menggapai apapun yang ada disekitarnya. 

Peto yang sedang bersantai membersihkan kaki-kakinya yang pendek dan gemuk, terkejut.“ Sepertinya itu suara Mosa” guman Peto.Ia menajamkan pendengarannya dan berusaha mendengar lebih jelas suara yang didengarnya tadi.“Tooolloooong..toooolloooong aku’” teriakan Mosa kembali terdengar. 

“Benar, itu suara Mosa,” seru Peto. Bergegas ia mencari darimana asal suara itu.“Mosa..Mosa..dimana kau nak?” teriak Peto khawatir sambil matanya mencari-cari keberadaan anaknya. 

Begitu mendengar suara ayahnya , Mosa langsung berteriak lebih kencang,” Ayah..ayah..aku ada disini. Cepat ayah aku sudah tidak kuat lagi , aku hampir jatuh,” jerit Mosa panik. 

Kepala Mosa terasa pusing karena terombang-ambing pada bulu yang kusut tadi. Pada saat ia terbanting menghadap kebawah, ia dapat melihat kaki si empunya tubuh berusaha menggapainya. 

Posisi Mosa saat ini persis menggantung-gantung tepat dipinggir badan makhluk yang ia tempati bersama keluarganya. 

“Mosa..Mosa..dimana kau?” kembali suara Peto terdengar.“Aku ada dibawah sini, cepat ayah, aku sudah mau jatuh,” Mosa berkata sambil berusaha bertahan supaya tidak terjatuh.

 Peto bergegas ke tempat Mosa, ia mendongak kebawah dari tempatnya berada.“Mosa..usahakan untuk menggapai sesuatu dan coba untuk naik ke atas sedikit,” teriak Peto. 

“ Tapi ayah..bulu-bulu ini membuatku susah untuk berdiri,” balas Mosa panik. 

“ Kau coba dulu , karena ayah tidak dapat menggapaimu dari sini ,” Peto berusaha meraih kaki-kaki Mosa tapi sia-sia. 

Mosa sekuat tenaga berusaha berdiri dengan benar dan mencoba meraih apa pun yang bisa menjadi pegangannya. Setelah sekian lama, akhirnya ia dapat merasakan menyentuh sesuatu yang cukup kuat untuk dijadikan pegangan. 

“Bagus nak , coba kau perlahan-lahan naik” seru Peto.

 Mosa mengikuti perkataan ayahnya. Dengan perlahan ia mencoba naik ke tempat yang lebih tinggi. 

“ Ayo nak sedikit lagi , ayah sudah dapat meraihmu,’ Peto berkata sambil menjulurkan kaki-nya sejauh mungkin. 

Ketika Peto hampir meraih Mosa, tiba-tiba ada bayangan hitam berbentuk cakar bergerak cepat menghampiri mereka berdua. 

“ Mosa..awas dibelakangmu,” teriak Peto.Ketika Mosa ingin melihat kebelakang untuk mengetahui apa yang terjadi, seketika tubuhnya melambung tinggi dan ia merasakan tubuhnya menjadi sangat ringan. 

Sesaat ia bingung , apakah aku bisa terbang sekarang , Mosa bertanya-tanya dalam hati. Tetapi ia tidak punya banyak waktu berpikir karena beberapa detik kemudian, Mosa dapat melihat ayahnya semakin mengecil.

Lalu ia meluncur dengan cepat menuju tempat ayahnya. Brruuukk…bunyi dua benda bertabrakan.“Aauuuhhh…,” seru Mosa kesakitan. 

Tiba-tiba ia merasakan badannya menyentuh bulu-bulu halus dan menggelinding cepat menuju kebawah.Bug..gedebug..baaamm..tubuhnya yang mungil terhempas ke tanah. Lalu bluug ada sesuatu yang menimpanya. Pandangannya menjadi gelap….[bersambung] 

Komentar»

No comments yet — be the first.