jump to navigation

“Influen”!

Dalam Atmosfir ini sengaja saya mencari sebuah artikel ataupun berita yang dapat membuat pembacanya mendapatkan pencerahaan paling tidak untuk modal atau juga sebagai ‘intermediasi’ saat terjadi perdebatan antara hati dan pikiran kita…semoga

Aburizal Bakrie Itu Seperti Mike Tyson
    
warta ekonomi.com
Bobby Gafur Sulistyo Umar Presdir PT Bakrie & Brothers Tbk.

Pada penghujung 2007 PT Bakrie & Brothers Tbk. (B&B) mendapatkan dua berkah. Pertama, anak usahanya, PT Bakrie Telecom Tbk., menang tender Sambungan Langsung Internasional (SLI), mengalahkan sejumlah pesaing. Kedua, kemenangan konsorsium PLUS Expressway-Bakrie-Global Financindo untuk proyek jalan tol ruas Cimanggis-Cibitung sepanjang 25 kilometer dengan investasi Rp3,2 triliun. Ke mana arah bisnis Grup Bakrie kelak? Bagaimana perusahaan lepas dari pengaruh nama besar Aburizal Bakrie? Kamis (27/9) lalu, Bobby Gafur menerima Yudit Marendra dan fotografer Sufri Yuliardi dari Warta Ekonomi untuk sebuah wawancara khusus. Petikannya:

  Bagaimana bisnis B&B kini?

Kami memiliki tiga bisnis inti, yakni penunjang infrastruktur, telekomunikasi, dan perkebunan. Dalam bisnis telekomunikasi, kami beroperasi lewat PT Bakrie Telecom Tbk. dengan produknya Esia. Kemarin kami menang dalam tender SLI. Itu berkah bagi kami dalam memasuki semester II. Sebelumnya, SLI ini masih dimonopoli, lalu duopoli, kini sudah pasar bebas. Di bisnis telekomunikasi, pada 2005 jumlah pelanggan kami masih 350.000-an, tetapi pada 2006 naik menjadi 1,55 juta. Kami targetkan tahun ini mencapai 3,6 juta pelanggan. Jadi, kami cukup agresif. Apalagi, Desember tahun lalu kami mendapatkan lisensi nasional. Kalau tadinya kami cuma ada di Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, kini bisa bermain di tingkat nasional. Kami targetkan penambahan jaringan di Jawa Barat dan Banten, dari 17 kota, akhir tahun ini menjadi 34 kota. Ditambah lagi kami menang tender SLI. Jadi, sebagai operator telekomunikasi, posisi kami makin mantap.

 Kemenangan Bakrie dalam tender SLI menimbulkan pertanyaan dari operator lain. Komentar Anda?

Kalau pertanyaannya mengapa Bakrie menang, silakan tanya ke pemerintah. Kami ikut tender dan ada tim penilainya. Dalam tender ada banyak faktor dan parameter, tetapi kami termasuk yang paling fit di antara semuanya.

 Bagaimana dengan bisnis perkebunan?

Bisnis perkebunan kami mulai sejak 1911. Kami menguasai dari hulu sampai hilir. Untuk kelapa sawit, kami mulai pada awal 1990-an. Setelah melihat prospeknya yang bagus, kami mau masuk ke bisnis hilirnya. Nah, di perkebunan ini, sampai akhir tahun lalu, kami memiliki lahan seluas 53.000 hektar. Selama semester I dan II tahun ini, kami mengakuisisi 25.000 hektar kebun baru yang sudah ada tanamannya. Kami juga akan meningkatkan kepemilikan di Agri Resources BV dari 20% menjadi 51% (Agri Resources memiliki perkebunan kelapa sawit seluas 28.399 hektar di Sumatera—Red.). Jadi, total kami punya lahan seluas 106.000 hektar.

 Bakrie masuk ke bisnis infrastruktur, yakni jalan tol. Padahal, Bakrie kan belum berpengalaman di bisnis ini?

Meski belum berpengalaman membangun jalan tol, kami punya potensi. Misalnya, kami punya bisnis konstruksi lewat PT Bakrie Construction. Kami juga mampu melakukan fund rising. Pemerintah menargetkan pembangunan 1.115 kilometer jalan tol yang harus selesai pada 2010. Di sini kita memang ketinggalan. Kita mulai membangun pada 1974, sampai 2007 panjang jalan tol hanya 650 kilometer. Jadi, rata-rata hanya 22,4 kilometer per tahun. Malaysia mulai membangun jalan tol pada 1986, kini panjangnya sudah 6.000 kilometer. Jadi, sepuluh kali lipatnya. Cina mulai tahun 1990, kini tolnya sudah 90.000 kilometer. Kini, pemerintah akan membangun jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera agar ekonomi tidak terkonsentrasi di Jawa. Itu ide bagus.

Soal kami belum berpengalaman, strateginya, kalau bisnisnya masih baru dan kami belum terlalu mengerti atau punya kompetensi, kami menggandeng partner yang ada di sana. Di jalan tol, misalnya, kami menggandeng PLUS, anak usaha Khazanah, salah satu operator jalan tol terbesar di Malaysia. Kepemilikan sahamnya, Khazanah 60%, Bakrie 15%, dan 25% dari Global Financindo.

 Proyek lainnya?

Kami menggarap pipanisasi gas Kalimantan-Jawa sepanjang 1.200 kilometer dengan investasi US$1,25 miliar. Selain itu, kami juga menggarap proyek pipanisasi minyak di Semenanjung Malaysia, dari pantai barat ke timur, dengan nama Peninsula Pipeline Project. Proyek ini terbagi tiga line, dengan masing-masing line panjangnya 350 kilometer. Total nilai proyek ini, termasuk storage, terminal, serta pompa-pompanya, mencapai US$7 miliar. Proyek ini akan mulai dibangun tahun 2007 dan diharapkan selesai pada 2014. Kini mereka tengah menyiapkan front-end engineering design (FEED) dan financing-nya. Salah satu sasaran kami adalah pipanya. Kami sudah menandatangani MoU di Malaysia untuk pipanya senilai US$800–900 juta.

Bobby dilahirkan di Jakarta pada tahun 1968. Ia lulusan teknik elektro dari Universitas Trisakti, Jakarta, tahun 1992, dan meraih gelar MBA dari Universitas Arkansas, AS, pada 1995. Bobby memulai kariernya di B&B pada 1995. Di Grup Bakrie, pada 1997 Bobby pernah menjadi manajer proyek restrukturisasi dan akuisisi. Selanjutnya, sampai tahun 2002, Bobby menjadi direktur Pengawasan Operasional dan Pengembangan Bisnis PT Bakrie Sumatera Plantations.

 Apa perbedaan Bakrie dulu dan sekarang?

Bakrie mengalami beberapa kali evolusi. Paling menonjol tahun 1990-an dengan masuknya para profesional. Jadi, Aburizal Bakrie digantikan Tanri Abeng, dari family business menjadi professional business, dan dengan go public kami berubah dari perusahaan tertutup menjadi terbuka.

 Anda pernah membuat blueprint Grup Bakrie. Hasilnya?

Blueprint kami persiapkan pada 2004 dengan revenue kami Rp1,2 triliun. Lalu, pada 2005 meningkat menjadi Rp2,7 triliun, dan terakhir, 2006, mencapai Rp4,3 triliun. Ini tumbuh luar biasa. Untuk 2007, dengan memenangkan beberapa proyek, kami harapkan revenue bisa tumbuh 20%. Dari segi bottom line atau EBITDA, kami tumbuh 35%–40%. Jadi, pendapatan naik 20%, tetapi keuntungan tumbuh 40%. Dengan demikian, kami beroperasi secara lebih efisien, terutama pada proses produksi. Kami juga mulai menerapkan enterprise risk management. Lalu, kami sangat concern dengan SDM. Dengan pertumbuhan kami yang begitu cepat, kesiapan SDM tak boleh ketinggalan. Prinsipnya, yang terpenting SDM kami mampu berpikir, cepat menyesuaikan diri, dan cepat belajar.

 Anda menjadi presdir secara profesional atau karena kedekatan dengan Aburizal Bakrie?

Saya profesional murni. Saya kenal Pak Ical waktu ikut organisasi Persatuan Insinyur Indonesia (PII). Kebetulan beliau ketua PII, dan saya baru lulus tahun 1992. Selama tiga tahun kami kerja bersama, dengan dua event yang saya ingat, yaitu ulang tahun PII dan mendatangkan PM Inggris Margareth Thatcher ke Indonesia. Pada 1995 saya bertemu lagi dengan Pak Ical di Washington. Dia tanya, mengapa tidak kembali ke Indonesia, ke Bakrie? Saya bilang, mau cari pengalaman dulu. Sejak itu saya terus berpikir dan mencari info lewat internet tentang Grup Bakrie. Saya lihat Bakrie adalah perusahaan pribumi yang prospektif. Akhirnya, Agustus 1995, saya melamar ke Bakrie dan diterima sebagai management trainee, ditempatkan sebagai asisten presiden komisaris. Saya banyak belajar di situ.

 Apa kesan Anda sewaktu menjadi CEO?

Waktu saya menjadi presdir pada 2002, jangankan ke luar negeri, di dalam negeri pun kalau kami ke bank ada banyak suara skeptis. Bakrie itu mau ke mana lagi sih, dosanya sudah banyak… hahaha. Bahkan, waktu itu ada orang bank yang mengusulkan supaya Bakrie ganti nama. Saya katakan, tidak. Kami punya track record panjang, tinggal bagaimana meyakinkan orang bahwa kami back to business dengan new paradigm. Ini tugas saya, dan berhasil. Dalam waktu kurang dari dua tahun, kami mendapat pinjaman pertama dari Bank Internasional Indonesia senilai Rp35 miliar.Kemudian, kami mulai ke luar negeri pada akhir 2004. Ternyata, mereka tidak tahu siapa kami. Datanya sudah tidak up to date. Tahun 2005, waktu kami roadshow, jumlah pemegang saham asing di B&B kurang dari 5%. Kini, tahun 2007, ada 54% saham B&B yang dikuasai asing. Kebanyakan dari AS, Inggris, Hong Kong, dan Singapura.

 Bagaimana cara Anda meyakinkan mereka?

Pertama, orang melihat kredibilitas dan perencanaan. Harus jelas perusahaan ini mau ke mana. Kedua, apa visi perusahaan ini ke depan. Kami perlihatkan blueprint Bakrie. Cara berkomunikasi juga harus bagus, tidak boleh tertutup. Kami harus menjadi perusahaan yang terbuka, transparan, dan kredibel.

 Saat ini, berapa besar saham Keluarga Bakrie di Grup Bakrie?

Kalau sekarang, perkiraan saya mungkin langsung atau tidak langsung bisa 35%–45%. Namun, jumlah persisnya saya tidak tahu.

 Bagaimana bisnis B&B ke depan?

Saya sedang membuat visi 2020 untuk menggantikan blueprint terdahulu yang sudah banyak tercapai. Targetnya, awal tahun depan selesai. Kelak, kami harus lebih fokus. Misalnya, kalau mau tetap di perkebunan, ke mana arahnya? Horizontal atau vertikal?

 Kini Aburizal Bakrie terjun ke politik. Adakah pengaruhnya ke Grup Bakrie?

Keterlibatan terakhir Pak Ical dalam bisnis adalah pada Maret 2004, lalu beliau mundur untuk terjun ke politik. Sebenarnya, beliau sudah lama mau mundur, tetapi karena waktu itu ada krisis moneter, dia merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikannya. Jadi, beliau tidak serta merta meninggalkan Grup Bakrie, tetapi bertahap. Begitu melihat Grup Bakrie sudah bisa berjalan, beliau pun mundur.

 Ada beban memakai nama Bakrie?

Ada plus minus-nya. Positifnya, nama kami dikenal. Di luar negeri, kami dikenal sebagai pemain lama yang eks chairman-nya menjadi menteri. Akan tetapi, negatifnya, nama Bakrie terlalu besar. Lapindo bukan di bawah Bakrie, melainkan PT Energi Mega Persada Tbk. Namun, waktu Lapindo bermasalah, Bakrie yang terkena.

 Bagaimana Anda menilai Aburizal Bakrie?

Pak Ical itu fighter sejati. Kalau di olahraga tinju, ibaratnya Mike Tyson. Dia punya idealisme, salah satunya nasionalisme. Beliau itu kalau sudah bicara nasionalisme, wah, pokoknya nomor satu Indonesia. Pernah kami mau bekerja sama membuat perusahaan baja, berpatungan dengan perusahaan dari Inggris. Beliau bilang, karena pabriknya di Indonesia, pimpinannya harus orang Indonesia. Lalu, di pembangkit listrik Tanjung Jati senilai US$1,4 miliar, meski cuma memiliki saham 20%, kami menjadi pemimpin konsorsium.

 Apa olahraga favorit Anda, dan bagaimana Anda mengisi waktu luang bersama keluarga?

Berenang, walkout gym, dan golf. Waktunya tergantung mood. Kalau lagi rajin bangun pagi, ya pagi-pagi olahraga. Namun, saya lebih senang pergi ke health club, seperti Klub Rasuna, ketimbang di rumah. Suasananya lain. Kalau di klub bisa olahraga dua jam nonstop. Kalau di rumah malah sibuk main dengan anak-anak.

     

 

   
     
  
   
  
  
 
   
   
    
    
    
  
 
  

Komentar»

No comments yet — be the first.