Kalbu!
Sebuah Usaha untuk Berbisik! [part Teluu]
Aku akan menguliti keyakinanmu, sampai pedihnya menjalar keluar dari rumahmu menuju gang-gang dan bunga-bunga yang menjenguk keluar dari pagarnya akan lambat laun layu, sebab memang hal seperti itu pedih benar. Tapi, bukankah kepedihan-kepedihan itu yang akan terus mengingatkanmu padaku? Ingat, setiap kesenangan akan gampang usang, lapuk dimakan cuaca.
Seringkali terlupakan olehmu, pesanku itu, jauh hari sebelum ada surat-surat, bunga-bunga, sajak-sajak, jauh hari sebelum aku membangun kota yang rindang di dirimu, jauh hari sebelum engkau melakukan kesalahan fatal dengan cara menutup-nutupi keinginanmu padaku, jauh hari sebelum aku berniat benar.
Menjadi permasalahanku dari hari ke hari, kemudian, untuk terus menerus masuk ke kepalamu merayapkan gundahku secara jujur dan kemudian menekan tombol-tombol yang ada di dalamnya. Isi kepalamu adalah benda antic yang tidak terlalu rumit. Lebih menyerupai keramik-keramik daripada sirkuit-sirkuit, tetap harus ada kehati-hatian dalam langkah-langkah pendek yang bersih dari keserampangan. Tapi, tetap saja harus ada gempa-gempa yang ditanam di sana yang kelak akan jadi bom waktu untuk menghancurkan rayap-rayap keseharianmu yang bahkan mulai membuat jalur-jalur ekonomi di dalam kepalamu.
Aku adalah mahluk melata yang mempunyai 273 tingkat bahaya dan masing-masing tingkat bahaya memiliki 137 anak bahaya. Cukup membahayakanmu dalam perjalanan mengingat benda-benda. Tingkat anak bahaya yang paling rendah resikonya terwakili oleh sebuah bus kota di sebuah Negara dunia ketiga. Tak perlu banyak alas an dan aturan. Seperti halnya takdir benda cair, ia meluncur sekaligus membuat hokum-hukumnya sendiri menjadi nyata…
Komentar»
No comments yet — be the first.